Jumat, 25 Juni 2021

Spiritual Awakening



Yeah, mungkin ini postingan yang bakalan agak serius dibandingkan lainnya deh. Entah kenapa sejak tahun 2014, gw semacam haus oleh hal-hal yang berbau spiritualisme. Well bener juga mungkin apa yang dikatakan oleh ilmu psiognomi, bahwa bentuk kuping gw yang menggelambir ini menandakan bahwa gw akan lebih menyelami ilmu spiritual lebih jauh. Apalagi sejak SD SMP temen-temen udah mengolok-olok gw dengan sebutan kuping Buddha Julai yang sering mereka liat di drama Kera Sakti jaman dulu. En, dulu mah gw tidak menghiraukan sebutan itu sampai pada saatnya gw mempelajari psiognomi sebagai lanjutan dari grafologi yang gw juga gak tau juga kenapa gw pelajari itu. 

Well, secara KTP gw agama gw adalah Islam dan gw amat suka sekali dengan apa yang diajarkan kepada gw sewaktu gw ada di bangku TPA. Terlepas dari memang bokap gw yang nyuruh gw untuk TPA, gw juga menemukan kenyamanan dan dinamika sosial yang gw sendiri ada di dalamnya. TPA buat gw bukan hanya mengaji dan bernyanyi, namun juga tingkatan yang lebih dalam mulai dari drama sampai dengan persaingan lucu-lucuan antara temen-temen TPA gw, yah walo pada akhirnya semuanya seperti sudah melupakan hal itu dan dan sibuk dengan karakter nyata mereka di dunia ini. 

Menginjak SMA gw diperkenalkan dengan dunia Islam kanan yang beraliran ahlus sunnah wal jamaah. Dari kelas X gw udah ditempatkan di sebuah majelis, halaqah, liqo yang anggotanya random dari beberapa kelas. Pada dasarnya keikutsertaan gw di Rohis SMA ini tidak lain dan tidak bukan adalah bentuk pelarian gw secara intuisi semata. Dan, momentum ini membuat gw seperti terlarut di medan gravitasinya, dan sampai-sampai terjerat dalam politik partai politik yang pasti lo tau apa sih yang suka kaderisasi sampai di tahap SMA. Nggak tau kenapa gw jadi aktif dalam organisasi, even jadi bendahara Rohis Alumni SMA. Gw jadi sering ikutan majelis di masjid-masjid en sering juga mabit (menginap di masjid) di beberapa masjid, yang gw ingat sih di masjid selatannya masjid agung Bantul sama di masjid UNY. 

Menginjak kuliah gw juga dimasukkan ke kelompok liqo yang menyenangkan, tapi selepas tahun pertama gw merasa tidak ada perkembangan spiritual dalam diri gw. Void. Selama empat tahun lebih gw berjalan tanpa arah. Gw ya seperti biasa hanya menjalani apa yang sudah dipelajari dengan konstan. Tidak ada evolusi batin dan tidak ada perasaan luar biasa yang gw peroleh. Gw mulai mengamati dan mengamati apa yang terjadi di dalam diri gw, dalam hidup gw, di orang-orang lain di sekitar gw dan di negara ini, lebih-lebih lagi di dunia ini. Gw mulai mengembara bukan hanya secara fisik, namun juga secara spiritual dengan menyelami pemikiran, gagasan, en dan misteri konspirasi. 

Pasca 2012, gw secara terbuka menjalani hari-hari gw sebagai Darwinist, yap, kalao bahasa sinteron Indonesia, jadilah para pencari Tuhan. Menurut gw ini adalah langkah wajib yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap manusia harus mempunyai pengalaman spiritual menemukan Tuhan-nya dan mendalami siapa dia sebenarnya. Gw jadi tertarik dengan Filsafat. Gw pelajari Filsafat mulai dari jaman Pre-Socrates, Aristoteles hingga Immanuel Kant, kemudian lanjut Spinoza sampai dengan Sigmund Freud di filsafat modern untuk mencari tahu apa sih sebenarnya yang mereka pikirkan. Kenapa gw kudu mencari Tuhan? Karena pada tahap itu gw merasa Void yang paling dalam. Gw terlahir sudah dilekatkan dengan agama tertentu dan ini yang menghalangi gw untuk mencari Tuhan versi gw sendiri. Gw mulai mempertanyakan semuanya. Gw mulai berkontemplasi. Gw ingin kembali ke keadaan seperti gw dilahirkan ke dunia, tanpa lekatan apapun. Intinya, gw tidak ingin melakukan apa yang dilakukan orang lain hanya karena mereka sudah melakukannya ratusan tahun dan segala tetek bengeknya. Menurut gw, gw musti punya pengetahuan tentang apa-apa yang gw lakukan, baru gw sadar melakukannya dengan sukarela. 

Tahun 2014, seperti sudah diatur oleh semesta ini, gw bertemu dengan orang yang berpemikiran sama, orang yang gw anggap guru gw. Ingat, guru spiritual bisa datang kapan pun dan dimanapun, tidak harus berjubah panjang dan berjenggot lebat apalagi berpecis atau beratribut agama lainnya. Hampir sebagian besar pertanyaan gw terjawab olehnya. Kemudian pandangan gw berbalik, dan ternyata masih banyak misteri yang ada di dunia ini. Dan tentu saja melihat betapa kronisnya masalah ini di negara tercinta kita. 

Mungkin, tantangan terbesar adalah penolakan menuju ke arah kesadaran universal (universal consciousness). Gw gak bisa menjelaskan detail mengenai apa-apa yang telah gw dapatkan di perjalanan gw, karena hal ini hanya dapat diterima oleh orang-orang khusus yang hatinya terbuka tanpa hijab apapun. Semakin besar penolakan, maka semakin besar hijab mereka. Maka, mulailah mengembara dan temukan segalanya yang memang sudah lengkap bersama lo semua, cuman lo menghijabi diri lo sendiri dengan kebenaran. 

Makanya gw suka banget dengan semua karya Dee (Dewi Lestari), terutama Partikel dan Rectoverso. Pemahaman Dee atas spiritual dan kesadaran universal benar-benar dapat dilihat dalam karya-nya. Dan secara kebetulan sekali gw dapat karyanya James Redfield cetakan kedelapan tahun 2013 yang kebetulan sekali juga gw temukan di Anand Krishna Center yang berjudul Celestine Prophecy. Secara teoretis, buku ini menjelaskan mengenai Sembilan wawasan yang wajib diketahui pada pelaku spiritual, lebih dalam lagi pelaku mistik. Sebenarnya momentum pertemuan dengan buku Anand Krishna ini sudah tersinkronkan dengan kehidupan gw sewaktu gw SMP. Waktu itu ada penyewa bangunan di rumah gw yang suka koleksi bukunya Anand Krishna ini en sempet ngajarin beberapa hal ke gw. Cuman saking gwnya aja yang masih awam, jadilah kupikir itu ajaran yang sesat. Yak, seperti kebanyakan orang menganggapnya demikian sekarang. 

Nah, tidak ada yang bernama kebetulan di dunia ini, semuanya sudah diatur sedemikian rupa dan ada makna dan hikmahnya sendiri-sendiri. Seperti pesannya Sudjiwo Tedjo, jangan pernah menghina, meremehkan, atau menyalahkan agama lain dan lakukan apapun menurut intuisi, karena kata hati adalah yang terbaik. Dan selalu ingat karma, karena jika semua orang mengerti karma, maka tidak aka nada yang namanya tindak kejahatan, lihat saja di Bali, angka kriminalitas sangat rendah sekali, mereka mencegah perbuatan keji dan mungkar lebih dari kita orang Islam yang memang diperintahkan untuk begitu. 

Mungkin karena gw sudah benar-benar jenuh dengan keadaan umat saat ini, mungkin momentum ini adalah yang terbaik. Yakni bersama mengajak ke jalan pencerahan dan bersama juga mengenal Tuhan, karena itulah tujuan setiap agama di dunia ini. 

Kenali dirimu baik-baik dengan benar, maka kamu akan kenal dengan yang sebenarnya Tuhanmu, dan kamu akan mampu memilih agama yang benar, bukan membenar-benarkan agama-agama yang ada sekarang ini. Hidup dan matimu kamu yg menentukan.

Namaste.

Selasa, 08 Juni 2021

Selamat Datang di Taman Kanak-Kanak Spiritualitas

Mungkin blog ini sekarang akan lebih banyak gue isi dengan topik-topik pembahasan spiritualitas. Kalau pernah baca Supernovanya Dee Lestari, anggap saja blog ini sebagai si Supernova itu sendiri yang banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan penikmatnya. 

Blog ini ke depan akan diisi dengan curhatan-curhatan yang berbau spiritualitas. Terserah kamu, Anda, lu semua mau gimana menyikapinya. It’s all up to you. 

Kita mulai pembahasan dari yang paling basic dulu. Sebuah pertanyaan ditanyakan ke gue di platform Quora.

Apa yang dimaksud spiritual tapi tidak religius dan religius tapi tidak spiritual?

Ini adalah pertanyaan yang fundamental. Karena apa? Karena orang masih menyamakan antara berspiritual dengan beragama. Orang yang beragama belum tentu spiritual, namun orang yang spiritual sudah pasti mengerti agama secara fundamental. 

Maka, gue menjawab pertanyaan si Fulan tersebut dengan:

Dua hal tersebut memang sering terjadi, namun, biasanya orang yang spiritual biasanya akan paham sedikit banyak tentang religiusitas. Mereka punya limitasi-limitasi tertentu setelah berusaha untuk membuat pemakluman-pemaklumannya sendiri berkaitan dengan hal-hal berfisik yang ada di dalam, let's say, ritual agama.

Jadi, ya pemahaman religiusitas orang yang spiritual kalau bisa saya katakan ya jauh lebih paham, walaupun mungkin mereka tidak melakukannya (baca: ritual) karena memang mereka sudah memahami bagaimana esensinya.

Sebaliknya, orang yang religius sudah pasti hampir bisa dipastikan TIDAK spiritual. Mengapa? Karena mereka belum menyadari bagaimana sejatinya konsep spiritual itu. Mereka masih terkotak-kotak sesuai dengan kelompoknya. Dan mereka menganggap bahwa spiritual ya itu yang semacam uji nyali di televisi.

Nah, sejatinya semua orang akan mempelajari spiritualitas dalam artian yang benar, yakni menuju ke Tuhan. Namun kapan? Ya tergantung dari kelayakan masing-masing manusia. Ada manusia yang seumur hidup tidak dilayakkan oleh Tuhan karena memang dalam kehidupan ini dia harus banyak membayar karma yang dia perbuat sebelumnya. Ada saatnya nanti, manusia tersebut akan bertemu dengan guru yang tepat dan mengalami pertumbuhan spiritual. (tentu saja bagi kamu yang percaya dengan konsep karma dan reinkarnasi - nanti kita bahas ini di postingan terpisah)

Sementara itu, niatkan saja bahwa "saya mohon dilayakkan untuk proses spiritual". Ketika manusia itu siap, maka energi semesta akan bersambut.

Nah, ketika orang sudah sampai tahap pemikiran ini, maka dia mengalami yang disebut dengan kebangkitan spiritual. Ada juga orang di Quora yang bertanya tentang topik ini.

Apa yang dimaksud dengan mass awakening di tahun 2020 atau kebangkitan spiritual secara serentak di tahun 2020?

Akan ada banyak pertumbuhan jiwa-jiwa tua yang sudah malang melintang dalam samsara yang akan mengalami proses pengingatan kembali. Bukan hanya 2020, namun ke depannya akan begitu. Secara serentak? Bisa dibilang demikian momentumnya, namun daya tangkap masing-masing jiwa tentunya berbeda.

Apa saja yang Anda rasakan ketika mengalami kesadaran spiritual? Apa saja yang Anda pahami setelah mengalami kesadaran spiritual?

Momen spiritual enlightenment adalah proses yang langka, walaupun setiap manusia wajib menjalaninya (baik di linimasa saat ini atau yang lainnya). Setelah momen itu, yang pasti pandangan berubah. Tingkat pemahaman akan kebenaran Tuhan juga berubah. Proses selanjutnya adalah pencarian guru, karena belajar spiritual tidak akan mungkin tanpa guru. Setelah tahap ini, sang guru akan membantu manusia itu untuk dibersihkan dari segala emosi dan faktor-faktor mental negatif. Sehingga, yang dirasakan adalah damai.

**

Sepertinya itu dulu pembahasan kita tentang topik Pengantar Spiritualisme. Jalan ini lebar dan terang benderang namun tidak banyak orang yang tahu. Ya, memang harus begini. Semoga kita bertumbuh bersama. So be it.


Spiritual Awakening

Yeah, mungkin ini postingan yang bakalan agak serius dibandingkan lainnya deh. Entah kenapa sejak tahun 2014, gw semacam haus oleh hal-hal y...